MEBANGUN KINERJA MELALUI MOTIVASI KERJA KARYAWAN




Ada apa dengan kinerja karyawan

Kalau kita sepakat bahwa fungsi ideal dari pelaksanaan tugas karyawan dalam unit kerja adalah fungsi pelayanan, maka orientasi manajemen harus berfokus pada pelanggan. Maka konteks seharusnya adalah bahwa arah pelaksanaan tugas karyawan adalah memberikan pelayanan pada pelanggan, baik internal maupun exsternal.

Hal-hal di atas tidak mudah. Karena barisan terdepan dalam pemberian pelayanan adalah karyawan dengan berbagai persoalannya. Bukan tidak mungkin pelanggan memperoleh citra yang buruk tentang lembaga/organisasi, gara-gara pekerjaan pelayanan oleh karyawan yang jelek. Dari sinilah mungkin enter-point-nya. Harus fokus pada peningkatan kinerja karyawan. Karena tidak mungkin terjadi “fokus pada pelanggan” tanpa didahului oleh “fokus pada karyawan.”
Berbicara kinerja individual karyawan, ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi. Menurut Gibson, kinerja individual karyawan dipengaruhi oleh faktor motivasi, kemampuan dan lingkungan kerja.

Awalnya, adalah Motivasi Kerja

Faktor motivasi memiliki hubungan langsung dengan kinerja individual karyawan. Sedangkan faktor kemamampuan individual dan lingkungan kerja memiliki hubungan yang tidak langsung dengan kinerja. Kedua faktor tersebut keberadaannya akan mempengaruhi motivasi kerja karyawan. Karena kedudukan dan hubunganya itu, maka sangatlah strategis jika pengembangan kinerja individual karyawan dimulai dari peningkatan motivasi kerja. Diyah Dumasari Siregar ST, MM, dalam tulisannya menyatakan, bahwa karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karyawan memegang peran utama dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan. Apabila karyawan memiliki produktivitas dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju roda pun akan berjalan kencang, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan. Di sisi lain, bagaimana mungkin roda perusahaan berjalan baik, kalau karyawannya bekerja tidak produktif, artinya karyawan tidak memiliki semangat kerja yang tinggi, tidak ulet dalam bekerja dan memiliki moril yang rendah.

Adalah menjadi tugas manajemen agar karyawan memiliki semangat kerja dan moril yang tinggi serta ulet dalam bekerja. Berdasarkan pengalaman dan dari beberapa buku, biasanya karyawan yang puas dengan apa yang diperolehnya dari perusahaan akan memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan ia akan terus berusaha memperbaiki kinerjanya. Sebaliknya karyawan yang kepuasan kerjanya rendah, cenderung melihat pekerjaan sebagai hal yang menjemukan dan membosankan, sehingga ia bekerja dengan terpaksa dan asal-asalan. Untuk itu merupakan keharusan bagi perusahaan untuk mengenali faktor-faktor apa saja yang membuat karyawan puas bekerja di perusahaan. Pemahaman tentang jenis atau tingkat kebutuhan perorangan karyawan oleh perusahaan menjadi hal mendasar untuk meningkatkan motivasi. Dengan tercapainya kepuasan kerja karyawan, produktivitas pun akan meningkat.

Apa sebenarnya yg dibutuhkan karyawan? Menurut Maslow, jenjang kebutuhan manusia sebagai karyawan dari yang terrendah hingga yang tertinggi adalah :
Physiological Needs (Kebutuhan fisiologis/dasar/pokok)
Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman).
Social/Affiliation Needs (kebutuhan untuk bersosialisasi)
Esteem Needs (kebutuhan harga diri).
Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri).

Apa yang bisa kita ambil manfaatnya?

Menurut Diyah lagi, dari tingkat kebutuhan manusia menurut Maslow tersebut, kompensasi dalam bentuk sentuhan emosional merupakan level yang lebih tinggi, dibandingkan kebutuhan fisik/dasar. Level tertinggi yaitu Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri) membuktikan bahwa karyawan lebih senang apabila diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan diakui oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, bahwa karyawan ingin mendapat kesempatan berkembang dan menunjukkan kemampuannya

Cara Pandang Beban Hidup Tentukan Kesuksesan Kita

Bisnis, biasanya dimulai dengan coba-coba, kadang malah asal-asalan. Dimulai dengan modal seadanya, tempat seadanya, dengan orang yang sama-sama belajar dari nol. Saya kira, dari memulai yang serba kekurangan inilah yang akan membuat kita semakin cerdas dalam berbisnis. Proses bisnis ini akan memberikan pengalaman bisnis yang semakin hari mencerdaskan kita.

Belajar dari pengalaman bisnis setiap hari dan kebutuhan akan kemajuan bisnis kita, mulailah kita memberikan sentuhan manajemen, walaupun itu masih sangat sederhana. Sudah ada bagi-bagi pekerjaan atau bagi-bagi fungsi. Ada yang pegang keuangan, ada yang sudah mulai jadi pemasaran. Ada yang bagian produksi, ada juga yang ngurusi karyawan. Malah terkadang ada beberapa pekerjaan masih dirangkap satu orang. Ini adalah proses menuju bisnis yang sesungguhnya. Artinya, bisnis yang memiliki sistem yang baik. Dengan sudah adanya sistem, kita sebagai pengusaha cenderung mengelola perusahaan dengan full time. Kini, setelah ada sistem, cukup dengan part time.
Oleh karena itu, menurut saya, jika perusahaan kita sudah memiliki sistem yang baik, dan bisnis kita relatif berkembang, maka kesempatan kita untuk mengembangkan bisnis sangat terbuka luas, termasuk membuka bisnis baru. Berdasarkan pengalaman saya, lebih mudah membangun bisnisnya yang ke-2, ke-3, dan seterusnya, daripada ketika memulai bisnis yang pertama. Karena, disaat memulai bisnis yang pertama kita belum mempunyai apa-apa. Sementara, membangun bisnis yang ke-2, ke-3, dan seterusnya lebih mudah karena bisnis kita yang pertama sudah memiliki sistem yang baik. Saya kira, perlu dipertimbangkan matang-matang  jika kita ingin mencoba membangun bisnis yang ke-2, seharusnya bisnis kita yang pertama sudah memiliki sistem yang baik.
Dengan aktifitas kita yang sebelumnya full time, dan sebagai entrepreneur menjadi part time, dimungkinkan kita memiliki banyak waktu luang. Banyaknya waktu luang itu, membuat kita sebagai entrepreneur akan lebih fokus dalam menciptakan bisnis-bisnis baru. Menciptakan bisnis baru itu berarti kita telah menciptakan sumber penghasilan baru. Jika perusahaan kita memiliki sistem yang baik, maka manajer dan karyawan akan bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sehingga, banyak pekerjaan yang sudah terbagi habis oleh para professional di lingkungan bisnis kita. Dalam konteks inilah, entrepreneur tidak harus fokus. Justru yang harus fokus adalah orang-orang yang mengelola bisnis kita. Hanya mungkin, kita harus ikut fokus di awal berdirinya bisnis tersebut. Setelah bisnis kita kelihatan jalan, yah cari fokus yang lain.
Sebagai entrepreneur, sebaiknya kita tidak hanya memiliki satu sumber penghasilan saja. Tetapi bagaimana, kita dapat menciptakan banyak sumber penghasilan. Ibarat kita punya telur sepuluh menetas Sembilan, itu lebih baik dari pada hanya mempunyai satu telur yang menetas. Dengan kita membuat bisnis yang ke-2, ke-3, dan seterusnya, kita berharap mendapatkan penghasilan yang ke-2, ke-3, dan seterusnya. Sehingga, dengan kita memiliki sumber penghasilan, maka kita sebagai pengusaha mempunyai peluang untuk memiliki kebebasan financial.
Semangat kita menciptakan bisnis ke-2, ke-3, dan seterusnya akan punya dampak sosial, yaitu menciptakan lapangan kerja, membagi-bagi keuntungan, dan lain-lain. Artinya, kita sebagai entrepreneur memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dear Friends, dalam menjalani rutinitas hidup kita sehari-hari, pasti banyak tugas yang harus kita selesaikan, tantangan yang harus kita hadapi, yang sering kali kita anggap sebagai beban hidup kita, lantas bagaimana kita menyikapinya dan menjalankannya, sehingga tetap bisa menikmati hidup yang hanya satu kali ini saja? Simak cerita singkat berikut ini :
Cara Pandang VS Beban Hidup
Bukan beban berat yang membuat kita stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut Anda kira-kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200gr sampai 500gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." Lanjut Covey "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan Anda hari ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.
Sahabat yang terkasih, Hidup ini singkat, jadi belajarlah untuk menikmati dan memanfaatkannya dengan baik. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tidak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Banyak orang yang memulai bisnis dengan coba-coba, sedikit di antaranya berhasil, namun lebih banyak yang gagal dan akhirnya gulung tikar. Akibatnya, banyak orang termasuk lulusan perguruan tinggi yang lebih memilih menjadi karyawan ketimbang berwirausaha.

Sebenarnya apa saja yang dibutuhkan saat akan memulai berbisnis. Berikut beberapa tipsnya yang dirangkum dari berbagai sumber:

Informasi
Kumpulkan informasi mengenai bidang yang akan anda tekuni, baik dari berbagai buku, koran, maupun internet. Melakukan observasi langsung ke usaha sejenis untuk mendapat gambaran langsung juga sangat bagus dilakukan.

Cintai Bisnis yang Akan Anda Pilih
Jika anda sudah menentukan bisnis apa yang akan ditekuni, maka anda harus benar-benar melebur ke dalam bisnis itu. Jika anda mencintai bisnis anda, etos kerja akan meningkat dan tidak gampang menyerah meskipun beberapa kali mendapat kendala.

Berani Ambil Resiko
Berani mengambil resiko sangat penting untuk pengembangan usaha ke depan dengan catatan resiko tersebut sudah diperhitungan dan tidak gegabah.

Menyiapkan Modal
Menyiapkan modal awal sangat penting, apakah berasal dari modal perseorangan, join, maupun berasal dari pinjaman. Jika modal berasal dari pinjaman, usahakan bunganya tidak memberatkan dan masih bisa dibayar dengan laba yang akan didapat.

Perizinan
Sebelum memulai usaha, pelajari seluk beluk perizinan serta badan hukum. Setelah itu urus izin sesuai prosedur.

Pemasaran
Anda harus mempelajari kemana saja pasar produk anda, teknik memasarkannya, kiat promosi dan strateginya.

Membangun Brand yang Kuat
Membangun brand yang kuat harus dilakukan sedari awal oleh seorang usahawan. Brand yang kuat relatif lebih mampu bertahan lama.
Ahli marketing Hermawan Kertajaya dalam sebuah seminarnya pernah mengatakan, dalam membangun brand, perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan iklan. Karena itu Hermawan mengatakan, cara membangun brand adalah dengan membentuk bisnis yang dicintai oleh karyawan perusahaan, masyarakat, dan pemilik modal.

Kembangkan Jaringan
Carilah jaringan seluas-luasnya terutama yang berkaitan dengan bisnis anda. Siapa tahu dari mereka, anda akan mendapat banyak masukan dan pemasaran baru.

Jangan Takut Gagal
Menghadapi kegagalan di masa-masa awal adalah hal biasa dalam berbisnis. Jangan pernah takut dan jangan cepat menyerah. Pelajari penyebab kegagalan, lakukan evaluasi dan segera melakukan perbaikan.

Semoga cerita singkat ini bisa memberikan inspirasi buat kita semua untuk bisa lebih menikmati hidup, bersyukur, dan lebih produktif setiap hari. (fn/b2k/pk) www.suaramedia.com

Jurus Jitu Motivasi Karyawan Yang Dilanda Bosan

Kebosanan barangkali merupakan sesuatu yang nyaris luput dari perhatian kalangan bos di perusahaan sejauh menyangkut masalah karyawan. Jika Anda seorang manajer, atau petinggi di departemen HR, atau pemilik usaha yang membawahi sejumlah pegawai, mungkin Anda belum menyadari bahwa karyawan yang dilanda kebosanan termasuk persoalan serius.

Secara penampilan dan penampakan luar, karyawan yang bosan akan terlihat baik-baik saja. Ingat: ini bukan problema yang kasat mata. Sehingga, Anda pun tak menyadari bahwa "diam-diam" produktivitas mereka menurun dan mereka tak lagi menyelesaikan pekerjaannya sebaik biasanya. Maka, jika Anda tidak mulai memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh, jangan salahkan siapa-siapa jika produktivitas karyawan Anda terus menurun. Dan, Anda akan mulai menyadari ketika segalanya telah jadi tampak salah dan buruk.
Jadi, sekarang Anda pasti bertanya, "Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasi karyawan yang dilanda kebosanan?" Jangan kaget atau pun sedih kalau Anda hanya punya sedikit pilihan. Menurut David Javith, seorang Ph.D yang menjadi kolumnis pada entrepreneur.com untuk isu-isu manajemen karyawan sekaligus presiden sebuah organisasi konsultan perusahaan di Newton, Massachusetts, AS, intinya hanya ada dua cara: membiarkan mereka sambil berharap situasi akan pulih dengan sendirinya, atau mencoba memotivasi mereka setelah mempelajari situasinya, memberi pelatihan atau semacam pendampingan khusus untuk mengembalikan semangat kerja mereka, atau memecat mereka!
Apapun pilihan Anda, Javith mengingatkan, hendaknya dilakukan sesuai prosedur. Prosesnya bisa dimulai dengan memeriksa kembali job description mereka, sebuah dokumen yang terang dan objektif mendefinisikan pekerjaan karyawan secara rasional. Lalu, menjelaskan (kembali) apa saja tanggung jawab mereka sebagai karyawan sesuai posisi dalam hierarki perusahaan. Tak jarang, lewat proses semacam itu, seorang bos akan dikejutkan dengan kenyataan, betapa yang dilakukan selama ini oleh karyawannya tidaklah sesuai dengan apa yang tertera dalam job description yang telah disepakati sejak awal.
Kasus semacam itu menuntut keterampilan kepemimpinan Anda sebagai atasan di perusahaan. Javith menegaskan, bikinlah job description yang baru, yang lebih akurat, dengan melibatkan karyawan yang bersangkutan. Kalau perlu, mintalah sang karyawan untuk menuliskan job description-nya sendiri –Anda tinggal memeriksanya. Dengan cara ini, Anda sekaligus membantu karyawan merasa ikut menyumbangkan pikirannya dalam proses yang tengah berlangsung. Pada sisi lain, cara semacam itu juga membantu Anda sendiri melihat kesempatan-kesempatan bagi perubahan dan pertumbuhan dalam posisi dan dalam jalan karir para karyawan.
Dalam situasi yang sama, Anda juga bisa mendorong karyawan untuk mengidentifikasi apa (lagi) yang sebenarnya ingin mereka lakukan untuk menunjukkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Jika yang bersangkutan ternyata sama sekali tak tahu apa pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya untuk mengatasi kebosanan, ini justru menjadi kesempatan bagi Anda untuk menjelaskan langkah-langkah ke depan. Yakni, apa yang mestinya dimiliki oleh sang karyawan, misalnya bahwa dia harus meningkatkan pengetahuannya, menambah keahliannnya demi membuka kesempatan bagi dia untuk mendapatkan promosi kenaikan jabatan.
Tiga Jurus Khusus
Hal-hal seperti itulah, menurut Javith, yang akan menjadi sumber kunci untuk memotivasi karyawan yang dilanda kebosanan, karena dengan itu semua Anda membantu mereka melihat kesempatan-kesempatan untuk pertumbuhan profesional. Sehingga mereka akan menjadi bersemangat lagi melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka. Lebih jauh, secara khusus, untuk mengembalikan energi karyawan yang surut oleh kebosanan, Javith merekomendasikan tiga teknik yang diajukan oleh Frederick Herzberg dalam buku The Motivation to Work. Yakni, job rotation, job enlargement dan job enrichment.
Taktik pertama, job rotation, meliputi pelatihan lintas karyawan, atau memberi pembelajaran mengenai pekerjaan masing-masing karyawan dalam satu departemen yang sama. Misalnya, pada departemen keuangan, karyawan dari bagian pembayaran bisa belajar mengenai pekerjaan yang dilakukan oleh bagian pemasukan, dan sebaliknya. Proses rotasi pekerjaan bisa memotivasi karyawan karena tugas dan tanggung jawab yang berbeda memberikan rasa kebaruan, yang menyegarkan. Ditambah, karyawan akan merasakan efek pencapaian tertentu dengan penambahan pengetahuan dan kemampuan pekerjaan.
Sumber kedua untuk memotivasi karyawan adalah yang dianjurkan Herzberg adalah job enlargement. Lewat teknik ini, karyawan diberi tugas dan tanggung jawab yang lebih besar dalam pekerjaan mereka. Misalnya, karyawan bagian pemasukan keuangan pada contoh teknik nomer satu tadi, ditambah jumlah rekening yang harus dia tangani, atau diperbanyak lagi jumlah klien yang harus dia hubungi. Teknik ketiga hampir sama, hanya saja penambahan tugas dan tanggung jawab tidak secara kuantitatif, melainkan lebih kualitatif. Yakni, kompleksitas pekerjaannya dan bukan jumlahnya.
Berikut cerita dari ALVIN S. ALBERT, M.B.A, J.D. seorang praktisi pengacara dengan dua puluh tahun pengalaman di bidang manajemen, training, dan konsultasi do beberapa perusahan besar seperti Cox Communications, Comcast Corp., ACCION USA, dan A.T.&T. Dia telah banyak memberikan workshop di bidang kepemimpinan, manajemen, resolusi konflik, dan ketrampilan komunikasi. Kliennya meliputi Home Depot Inc., Fred Pryor Seminars, U.S. Small Business Administration, dan Monster.com. Albert juga menjadi sebagai profesor tambahan di Clayton College dan State University, Chattahoochee Technical College, dan The University of Phoenix.
Saya pernah bekeja sebagai manajer di industri televisi kabel. Pada saat itu saya mendapat suply elektronik, pakaian, bonus, dsb yang tidak terbatas yang digunakan sebagai insentif sales dan goodwill. Memberikan barang-barang melalui kontes, pesta, dan penarikan. Dengan memberikan hadiah melalui kontes, pesta, dan penarikan bisa dilakukan setiap minggu, meski tidak setiap hari terjadi. Setelah mendapatkan insentif kampanye yang mahal, saya menerima keluhan pajak atas bonus tunai dan warna jaket kulit seharga $200. Insentif ini telah menjadi patokan. Hiasan yang kami gunakan untuk memotivasi dan memberikan energi memiliki dampak jangka pendek pada sales dan perilaku. Hasilnya, pekerjaan jatuh pada manajemen yang secara konstan merancang insentif yang lebih besar dan lebih baik untuk "memotivasi" staf. Seperti yang dikatakan Janet Jackson – "apa yang sudah kamu lakukan untukku baru-baru ini?"
Tahun-tahun tersebut mengajarkanku tentang memotivasi karyawan. Banyak dari kita yang lebih memilih inspirasi – tim yang diarahkan pada diri yang bangga dengan pekerjaannya – tanpa trik yang berat. Berikut adalah lima tips untuk memotivasi karyawan:
1. Fokus pada interaksi non-kontigensi. Berinteraksi dengan orang-orang yang berada di level personal. Sebagai pemimpin, hubungan Anda dengan tim tidak hanya sebatas pada pekerjaan. Seperti yang dikatakan Madeleine Hunter, "Orang tidak peduli dengan seberapa banyak yang Anda ketahui, sampai mereka tahu seberapa besar Anda". Anda tidak harus memberikan peluk dan cium setiap pagi, tapi Anda juga tidak bisa seperti Vice-President yang pernah membawahi saya. Dia tidak pernah meninggalkan kantornya atau berbicara dengan stafnya sepanjang hari. Ketika dia berusaha untuk memimpin, dampaknya sangat kecil karena kami tidak memiliki hubungan.
2. Mematahkan peraturan. Saya pernah bertanya pada salah seorang sales, apa yang bisa saya lakukan untuk menunjukkan saya menghargai kerja kerasnya. Dia minta makan siang di pacuan kuda. Dia janji akan mengajarkan bagaimana bertaruh jika saya mentraktirnya makan dan menyetir mobil. Apa yang saya lihat sebagai gangguan pada jadwal saya yang sibuk, berubah menjadi salah satu hari "kerja" terbaik yang pernah saya alami. Kami sangat menikmati, membicarakan masalah bisnis, dan membawa hubungan ke tahap selanjutnya.
3. Berpikir murah dan kustom. Pepatah lama mengatakan, "ide-idelah yang dipertimbangkan" adalah hal nyata dan ampuh. Kustomisasi atau menyusun penghargaan, hadiah, dsb agar sesuai dengan penerima sangat berarti dibandingkan nilai hadiah. Staf sales seperti di Tips no.2 adalah seorang pria yang lebih tua dari saya yang tidak membutuhkan bonus uang, jam, atau hadiah berupa materi. Dia hanya menginginkan waktu saya.
4. Bersikap tulus dan dekat. Studi menunjukkan bahwa diantara motivator karyawan paling top adalah dengan mengakui pekerjaannya yang diselesaikan dengan baik. Pengakuan dengan memberikan tiket nonton, kartu terima kasih, voucher hadiah tidak ada artinya jika digunakan sendiri. Berikan juga kedekatan dan penghargaan yang tulus dan Anda memiliki formula coaching kinerja yang efektif. Saya membiasakan untuk membawa freepass bioskop untuk dibagikan ke staff Generation Y. Mereka paham mengapa mereka medapatkannya dan menghargai ada seseorang yang menghargai upaya mereka.
5. Berbagi informasi dan power. Motivasi sejati adalah intrinsik. Anda tidak bisa memakasa seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya. Setiap harinya tersingkir hanya karena mereka menolak kinerja- disamping minggu, bulan, dan tahun untuk berupaya "memotivasi" mereka. Orang menjadi memiliki motivasi diri ketika mereka merasa dihargai dan memiliki input dalam lingkungan kerja, tugas dan rencana. (fn/pm/phr) www.suaramedia.com

Mengenali Pelanggan Yang Tak Perlu Dilayani

Kemampuan mengenali pelanggan dengan baik bisa mendatangkan profit hingga 80 persen. Kebanyakan profit yang Anda dapatkan dari bisnis yang dijalani berasal dari kontribusi pelanggan. Namun, jangan salah karena tak semua pelanggan Anda mendatangkan profit besar. Hanya 20 persen dari daftar pelanggan Anda yang bisa membawa keuntungan. Sisanya, 80 persen pelanggan, lebih banyak membuang waktu Anda dengan percuma tanpa mendatangkan penghasilan apalagi profit.
Coach Tom MC Iflle mengatakan dalam bukunya Profit Is King, Rahasia Meledakkan Profit Tanpa Iklan!, ada dua kategori pelanggan, yakni kategori yang selalu “benar” dan kategori yang selalu “salah”.
“Delapan puluh persen profit Anda datang dari  20 persen pelanggan yang ada dalam kategori selalu benar,” kata Tom.
Tak selamanya pelanggan harus dilayani bak raja
Lebih jelasnya, pelanggan yang jumlahnya hanya sedikit tapi selalu benar ini adalah pelanggan yang memberikan Anda keuntungan. Mereka adalah pelanggan yang tak menyibukkan hari Anda tanpa hasil. Sebaliknya, pelanggan yang selalu membuat Anda sibuk, selalu Anda layani bak raja, nyatanya tak memberikan Anda keuntungan besar untuk bisnis Anda.
Lantas bagaimana memilah pelanggan yang membawa keuntungan dan mana yang tidak? Tom mencontohkan, sekarang tulislah daftar pelanggan Anda. Lalu, tuliskan di samping nama pelanggan Anda (atau nama perusahaan yang menjadi pelanggan), kontribusi profit yang bisa diperkirakan datang darinya. Sebagai pebisnis, Anda tentu sudah mengenali daftar pelanggan ini dan memprediksi peluang bisnis yang terbuka dengannya dan mendatangkan profit untuk bisnis Anda.
Lanjutkan dengan menghitung kontribusi profit pelanggan tersebut hingga menyentuh angka 80 persen dari total profit Anda. Dengan catatan, Anda sudah memiliki target dari total profit Anda.
Kemudian hitung jumlah pelanggan Anda. Lihat berapa persen dari seluruh pelanggan yang Anda layani tersebut yang mampu memberikan kontribusi terbanyak.
Dari catatan ini, Anda bisa melihat arah kecenderungan Anda dalam melayani pelanggan. Apakah Anda selama ini fokus dan konsentrasi melayani pelanggan yang salah atau yang benar? Inilah cara sederhana untuk memahami, sejauh mana Anda telah memanfaatkan waktu dengan benar untuk melayani pelanggan yang benar, yakni pelanggan yang memberikan Anda profit tinggi.
Bisa jadi, bisnis yang Anda jalani saat ini tak juga menuai profit memuaskan karena Anda telah terfokus melayani pelanggan yang salah. Yaitu pelanggan yang menikmati pelayanan Anda bak raja, tetapi lebih banyak menyibukkan daripada memberikan Anda peruntungan. Ayo, kenali lagi pelanggan bisnis Anda agar lebih banyak lagi keuntungan yang bisa diraup. (female.kompas.com)

7 Partner Bisnis Terburuk

Ketika Anda ingin membangun usaha, Anda tentu membutuhkan rekan. Ia bisa datang dari keluarga, bisa pula dari teman yang memiliki kesamaan visi. Namun bahkan partner yang sudah sangat Anda kenal pun, bisa menggagalkan usaha Anda. Mengapa demikian? Boleh jadi karena ia terlalu menuntut sesuatu dari bisnis yang Anda jalankan.
Menurut Scott D. Gerber, CEO Gerber Entertainment dan kolumnis Young Entrepreneur, dari setiap kemitraan yang tumbuh subur, ada ribuan yang berjalan stagnan, bubar, tidak berfungsi, atau bahkan berakhir di pengadilan. Menuntut seorang partner untuk melakukan pekerjaan dasar saja bahkan bisa menyebabkan kemitraan menjadi bermasalah. Apakah Anda sudah menjalankan tugas Anda? Apakah Anda siap mempercayakan keamanan finansial Anda pada orang lain yang kepribadian, etos kerja, dan jiwa kewirausahaannya tidak teruji? Apakah ia memiliki visi yang sama dengan Anda, yaitu memberikan layanan terbaik untuk pelanggan, atau hanya ingin mencari keuntungan?
Sebelum Anda memutuskan memilih seseorang untuk menjadi partner usaha, simak beberapa tipe business partnerterburuk yang sebaiknya dihindari.
Tipe karyawanMereka ini wirausahawan baru yang memiliki latar belakang kerja cukup baik. Namun mereka akan menuntut penghasilan yang cepat, mendapat penggantian biaya kesehatan, dan harus pulang ke rumah on time. Mereka tidak terlalu mandiri, dan tidak tahu bagaimana harus mengembangkan bisnis tanpa instruksi dari Anda. Selain itu, jika bisnis tidak segera memperlihatkan hasilnya, mereka mudah menyerah dan berniat kembali bekerja di kantor. Habis, mereka kan butuh uang untuk membayar dana pendidikan anak?
Tip: Orang yang ogah rugi, yang tidak ingin memprioritaskan bisnisnya, tidak akan menjadi partner yang produktif. Jangan mengambil risiko dengan mengajak seorang teman yang tidak bisa berkomitmen mengenai waktu, energi, dan keuangan.
Tipe perfeksionis
Ia mau segalanya sempurna, sebelum menjadwalkan tanggal peluncuran produk secara resmi. Setiap saat ia akan meriset kompetitor, membangun studi-studi kasus di industri yang digelutinya, dan memperbaiki business plan-nya yang setebal 150 halaman. Orang yang perfeksionis ingin bisnis baru ini segera berjalan, tapi masih merasa ada sesuatu yang tidak berjalan baik. Ia akan mengadakan survei yang komprehensif dan mengirimkannya kepada kolega, teman-teman, dan keluarganya, untuk membantu mematangkan konsepnya.
Tip: Perencanaan yang baik saat ini selalu lebih baik daripada perencanaan sempurna yang dilakukan belakangan. Jauhkan diri dari orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.
Tipe “selalu benar”Ia selalu menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa ia tak pernah salah. Kalimat favoritnya adalah, “Kalau aku sih….” Ia jarang mendiskusikan proses pembuatan keputusannya karena ia menganggap diskusi kadangkala bisa melemahkan. Ia senang merendahkan partner yang tidak setuju dengan pendapatnya, dan membuat keputusan tanpa memberitahukannya. Lucunya, ketika rencananya tidak berjalan sesuai kehendaknya, orang ini akan menyalahkan orang lain.
Tip: Komunikasi adalah kunci kesuksesan kemitraan. Anda perlu mencari orang yang bisa bekerja sama, bukan diktator.
Tipe CEOOrang bertipe CEO selalu terdorong untuk memberitahu siapapun bahwa ia seorang CEO, meskipun nilai perusahaannya lebih rendah daripada yang dia gambarkan dalam kartu namanya. Ia senang menghadiri jamuan makan, menulis namanya dengan font yang indah, dan menyimpan majalah-majalah otomotif yang glossy di atas meja yang terjangkau pandangan pelanggannya. Yang tidak disukainya hanya bekerja.
Tip: Membangun image memang penting, tetapi perusahaan yang sukses tidak dibangun hanya dengan modal bicara atau kemewahan semacam itu. Hindari rekan kerja yang egois, yang hanya bisa bicara tanpa bekerja yang sesungguhnya.
Tipe pemimpiOrang ini akan selalu mengatakan, “Suatu hari, kalau kita sudah kaya….” Ia selalu menyatakan keinginan untuk pensiun pada usia 40 tahun, dan bagaimana ia ingin menghabiskan tabungannya untuk traveling. Masalahnya, si pemimpi ini sesungguhnya tidak tahu bagaimana harus menjaga bisnisnya tetap berjalan bulan depan.
Tip: Tak ada yang salah dengan bermimpi. Namun kesuksesan dan penghasilan besar didapat dari kerja keras dan ketekunan, bukan mimpi siang bolong yang berlebihan. Seorang partner harus selalu positif dan optimis, namun ia juga harus fokus dan realistis.
Tipe penghambur
Ia selalu bersikap seolah perusahaan Anda telah berkembang besar seperti perusahaan dimana ia bekerja sebelumnya. Tipe ini tidak bisa hidup tanpa gaji dua digit, kantor yang rapi, dan segala fasilitas kesejahteraan karyawan yang lengkap. Uang tidak dianggap masalah ketika merasa harus menjamu relasi atau terbang dengan penerbangan first class. Ia juga dengan gampangnya mengundang Anda ke salah satu jamuan makan mewah yang dibayarnya dengan kartu kredit perusahaan.
Tip: Partner yang baik akan selalu bertanggung jawab dengan setiap rupiah yang digunakannya untuk perkembangan perusahaan, bukan gaya hidup pribadinya.
Tipe “masalah pribadi”
Partner semacam ini selalu saja mempunyai cerita sedih. Pada saat perusahaan Anda harus melakukan presentasi dalam suatu pertemuan kewirausahaan, anaknya sakit dan pembantu rumah tangganya sedang pulang kampung. Ia bersedia datang untuk pertemuan investor minggu depan, tetapi mertuanya sedang datang ke rumah dan harus ditemani. Kemudian, ia butuh uang untuk membayar uang muka pembelian rumah untuk adiknya, dan meminjam dari perusahaan untuk dicicil bulan depannya.
Tip: Anda tidak membangun bisnis untuk menjadi pengasuh anak atau psikiater. Kenali latar belakang seorang partner sebelum Anda menandatangani kontrak kerjasama dengannya. Diskusikan berbagai masalah, bisnis, kehidupan keluarga, hingga keuangan. Jika calon partner ini tampak bermasalah dalam hal integritas pribadi, sebaiknya segera cari penggantinya. (female.kompas.com)

Daftar Blog Saya

halaman

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

BLOG LAIN